Tampilkan postingan dengan label Padi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Padi. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Maret 2014

BUDIDAYA PADI DENGAN TEKNIK POLA SRI

BUDIDAYA PADI
DENGAN TEKNIK POLA SRI

Artikel ini bisa juga di baca di NaturalNusantara.org


budidaya padi teknik sri
Pola SRI adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktifitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara, terbukti telah berhasil meningkatkan produktifitas padi sebesar 50% , bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100%.

Metode ini pertama kali ditemukan secara tidak disengaja di Madagaskar antara tahun 1983 -84 oleh Fr. Henri de Laulanie, SJ, asal Prancis. Metodologi ini selanjutnya dalam bahasa Inggris populer dengan nama System of Rice Intensification disingkat SRI.Hasil metode SRI sangat memuaskan.

Di Madagaskar, pada beberapa tanah tak subur yang produksi normalnya 2 ton/ha, petani yang menggunakan SRI memperoleh hasil panen lebih dari 8 ton/ha, beberapa petani memperoleh 10 – 15 ton/ha, bahkan ada yang mencapai 20 ton/ha. Metode SRI minimal menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan metode yang biasa dipakai petani. Hanya saja diperlukan pikiran yang terbuka untuk menerima metode baru dan kemauan untuk bereksperimen.

Lima dasar  praktis dari pola SRI adalah :
1. menggunakan bibit muda
2. jarak tanam yang lebar dengan bibit tunggal
3. mempertahankan tanah basah tapi tidak menggenang
4. mempertinggi soil organik
5. sirkulasi dalam tanah terjaga semaksimal mungkin

Teknis Budidaya Padi Organik NASA Metode SRI

1. Pengolahan Tanah

Mula-mula tanah dibajak menggunakan traktor atau tenaga sapi atau kerbau. Selanjutnya tanah digaru sambil disebari Dolomit 250 – 500 kg dan pupuk organik SUPERNASA 5 – 10 kg per ha.

Pada saat menggaru dan meratakan tanah, usahakan agar air tidak mengalir di dalam sawah supaya unsur hara yang ada di tanah tidak hanyut. Setelah tanah diratakan,buatlah parit di bagian pinggir dan tengah tiap petakan sawah untuk memudahkan pengaturan air.

2. Persiapan Bibit

Kebutuhan benih untuk tanaman padi model SRI adalah 5-7 kg per hektar lahan.Benih sebelum disemai diuji dalam larutan air garam. Larutan air garam yang cukup untuk menguji benih adalah larutan yang apabila dimasukkan telur, maka telur akan terapung.

Benih yang baik untuk dijadikan benih adalah benih yang tenggelam dalam larutan tersebut. Kemudian benih telah diuji direndam POC NASA dosis 2 tutup / 10 liter air selama 24 jam kemudian ditiriskan dan diperam 2 hari, kemudian disemaikan pada media tanah dan pupuk organik atau kompos (1:1) didalam wadah segi empat ukuran 20 x 20 cm selama 7 hari. Setelah umur 7-10 hari benih padi sudah siap ditanam.

3. Penanaman

Bibit siap dipindahkan ke lahan setelah mencapai umur 7 – 10 hari setelah semai. Kondisi air pada saat tanam adalah “macak-macak” (Jawa.) atau kondisi tanah yang basah tetapi bukan tergenang.

Pada metode SRI digunakan sistem tanam tunggal, yaitu satu lubang tanam diisi satu bibit padi. Selain itu, bibit ditanam dangkal, yaitu pada kedalaman 2—3 cm dengan bentuk perakaran horizontal (seperti huruf L).
Jarak tanam yang digunakan dalam metode SRI adalah jarak tanam lebar, misalnya 25 cm x 25 cm atau 30 cm x 30 cm. Semakin lebar jarak tanam, semakin meningkat jumlah anakan produktif yang dihasilkan oleh tanaman padi. Penyebabnya, sinar matahari bisa mengenai seluruh bagian tanaman dengan lebih baik sehingga proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman terjadi dengan lebih optimal. Jarak tanam yang lebar ini juga memungkinkan tanaman untuk menyerap nutrisi, oksigen dan sinar matahari secara maksimal.

4. Pemupukan Setelah Tanam

poc nasa budidaya tanaman padi teknik sri
Pemupukan susulan dilakukan umur 15-20 hari setelah tanam dengan UREA = 100 kg dan NPK = 100 kg, umur 40-50 hari setelah tanam ZA = 50 kg dan NPK = 100 kg ditambah  POWER NUTRITIONsebanyak 2,5 – 5 kg per ha. 




Penyemprotan POC NASA dan HORMONIK dilakukan pada umur 15, 30 dan 40-45 hari setelah tanam dengan dosis 4-6 tutup POC NASA + 1-2 tutup HORMONIK atau dengan 1 sachet GREENSTAR per tangki ukuran 14-17 liter.

5. Pengelolaan Air dan Penyiangan

greenstar budidaya tanaman padi teknik sriProses pengelolaan air dan penyiangan dalam metode SRI dilakukan sebagai berikut :
  1. Ketika padi mencapai umur 1-8 hari sesudah tanam (HST), keadaan air di lahan adalah “macak-macak”.
  2. Sesudah padi mencapai umur 9-10 HST air kembali digenangkan dengan ketinggian 2-3 cm selama 1 malam saja. Ini dilakukan untuk memudahkan penyiangan tahap pertama.
  3. Setelah selesai disiangi, sawah kembali dikeringkan sampai padi mencapai umur 18 HST.
  4. Umur 19-20 HST sawah kembali digenangi untuk memudahkan penyiangan tahap kedua.
  5. Selanjutnya setelah padi berbunga, sawah diairi kembali setinggi 1-2 cm dan kondisi ini dipertahankan sampai padi “masak susu” (± 15-20 hari sebelum panen).
  6. Kemudian sawah kembali dikeringkan sampai saat panen tiba.

6. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman

bvr pestisida pada budidaya tanaman padi teknik sri
Pengendalian hama dilakukan dengan sistem PHT ( Pengelolaan Hama Terpadu). Dengan sistem ini, petani diajak untuk bisa mengelola unsur-unsur dalam agroekosistem (seperti matahari, tanaman, mikroorganisme, air, oksigen, dan musuh alami) sebagai alat pengendali hama dan penyakit tanaman. Cara yang dilakukan petani misalnya dengan pestisida organik berupa ramuan yang diolah dari bahan-bahan alami dan musuh alami yang berasal dari jamur dan virus untuk menghalau hama, seperti wereng, penggerek batang, walang sangit, keong mas dan burung. Untuk mencegah hama tersebut semprotkan PESTONA dan BVR secara selang seling tiap 1-2 minggu sekali.

pestona pestisida organik pada budidaya tanaman padi teknik sri
Untuk pengendalian gulma, metode SRI mengandalkan tenaga manusia dan sama sekali tidak memakai herbisida. Biasanya digunakan alat bantu yang disebut “sosrok”. .Ini adalah semacam garu yang berfungsi sebagai alat pencabut gulma. Dengan alat ini, gulma yang sudah tercabut sekaligus akan dibenamkan ke dalam tanah untuk menambah bahan organik tanah. Perlu diingat, bahwa dalam aplikasi metode SRI, gulma yang tumbuh akan relatif banyak karena sawah tidak selalu ada dalam kondisi tergenang air.

METODE SRI menguntungkan PETANI, karena :

1. meningkatkan produksi lebih dari 50 %
2. bibit berkurang 80-90%
3. air irigasi bekurang 25-50%
4. pupuk kimia dikurangi atau bisa ditiadakan
5. beras yang dihasilkan lebih tinggi dan eunak tenan.

Sabtu, 08 Maret 2014

CARA MEMBUAT BENIH PADI BER-TEKNOLOGI ORGANIK NASA

MEMBUAT BENIH PADI ORGANIK
MENGGUNAKAN TEKNOLOGI ORGANIK NASA



benih padi organik nasa
 Membuat benih padi ber-teknologi organik Nasa ini dapat juga dibaca melalui NaturalNusantara.org.

PENDAHULUAN

Benih padi yang unggul sangat penting sekali bagi kita karena benih merupakan faktor utama dan penentu keberhasilan budidaya kita. Bagaimanapun baiknya perawatan tanaman yang kita lakukan tidak akan ada gunanya jika benih yang kita gunakan sangat jelek.

Kini sangat banyak benih padi yang beredar di pasaran, namun apakah semuanya mempunyai kualitas yang baik? Seringkali kita menemukan kejadian walaupun benih yang kita gunakan tersebut telah bersertifikat dan berlabel namun setelah kita tanam hasilnya kurang memuaskan.


LANGKAH-LANGKAH

MEMBELI BENIH

Langkah yang utama untuk membuat benih padi yang unggul adalah kita harus memiliki benih padi  berlabel putih, benih dengan label putih bisa kita dapatkan di balai benih padi setempat.  Seandainya kita kesulitan mendapatkan benih berlabel putih kita bisa juga menggunakan benih yang berlabel ungu. Benih berlabel ungu bisa kita dapatkan di kios-kios pertanian. Kebutuhan benih sekitar 25 Kg untuk lahan 1 ha.

MENYIAPKAN LAHAN

Langkah yang kedua kita siapkan lahan untuk menanam padi tersebut. Lahan harus terisolasi dengan tanaman padi yang lain agar kemurniannya terjaga. Jarak antar lahan dan tanaman padi yang lain minimal 10 m. Atau paling enak kalau kita menanamnya berbeda waktu dengan tanaman padi yang lain. Terserah saja caranya yang penting jangan sampai waktu pembungaannya sama.

Sebelum benih label putih/ ungu  kita semai, sebaiknya kita seleksi dulu dengan menggunakan air garam/ air abu. Gunakan benih yang terendam dan jangan gunakan benih yang mengapung. Rendam dengan air bersih ditambah pupuk organik cair NASA selama 24 jam dan tiriskan selama 24 jam pula. Namun jika calon akar belum ada 0,5 cm pemeraman bisa diperlama 24 jam lagi.


PERSEMAIAN BENIH

Lahan pesemaian kita siapkan seperti biasa dengan luas kurang lebih 20 % dari luas lahan. Cara pembuatan bibit seperti padi biasa, hanya yang harus diperhatikan adalah saat bibit padi umur 1 minggu sebaiknya semprot Pupuk Organik Cair NASA + HORMONIK + pestisida organik PESTONA secukupnya. Dan saat bibit satu minggu menjelang  tanam sebaiknya kita aplikasi pestisida organik BVR dan CORRIN, agar saat penanaman nanti tidak ada hama dan penyakit yang terbawa ke pertanaman. poc nasahormonik-500ccgreenstar

Pada saat pengolahan tanah luku garu sebaiknya ditaburi Dolomit  ditambah pupuk organik padat SUPERNASA dan Phospat (TSP atau SP-36).

Cara penanaman benih padi unggul yang baik adalah harus memperhatikan jarak tanam, yaitu jangan kurang dari 22 cm. Dan gunakan sistem tanam legowo 2 : 1 atau maksimal  4:1. Tanam harus umur muda, kurang dari 18 hss (hari setelah semai). Saat penanaman jangan terlalu dalam. Gunakan cara tanam jiwir 2-3 batang per lubang. Inilah kunci untuk meningkatkan produksi benih padi unggul.


PENGAIRAN

Dalam pemeliharaan yang paling penting adalah pengairan yang berselang, yaitu pemberian air dan buang air sampai tanah agak mengering. Tanaman jangan selalu direndam air. Pemupukan gunakan NPK 300 kg/ ha dan tambahkan urea 100 kg/ha atau sesuaikan kebutuhan dengan menggunakan bagan warna daun.  Pemupukan bisa diberikan 2 kali ataupun 3 kali. Penyemprotan Pupuk Organik Cair NASA dan HORMONIK atau GREENSTAR tiap 1-2 minggu sekali dan bisa dicampur dengan pestisida organik seperti PESTONA, BVR dan CORRIN.

bvr pestonaAGENS-HAYATI-CORRIN

Ketika tanaman benih padi unggul telah berbuah maka perlu dilakukan penyortiran, hal ini berguna untuk meningkatkan kemurnian benih. Penyortiran dilakukan dengan cara membuang/ memangkas bulir-bulir padi yang berbeda varietasnya. Pemangkasan juga dilakukan terhadap jenis gulma yang sefamili dengan padi.

PowerNutrition 3 Kg-2



Ada trik juga untuk memantapkan pengisian bulir, yaitu dengan cara menambahkan pupuk NPK ditambah pupuk organik padat POWER NUTRITION ketika bulir padi telah masak susu. Hal ini berfungsi untuk memperlama proses pengisian dan memundurkan masa panen.

PEMANENAN

panen padi
Pemanenan benih padi unggul dilakukan jangan bersamaan dengan tanaman padi konsumsi. Hal ini bertujuan agar supaya benih tidak tercampur dengan benih lain. Gunakan sabit yang bergerigi dan taruh potongan malai pada terpal atau karung bekas. Pemanenan dilakukan saat padi menguning sekitar 90 %.



PENJEMURAN


jemur padi
Penjemuran calon benih padi unggul sebaiknya  tidak dilakukan dilantai jemur, tapi harus diberi alas terpal atau anyaman bambu. Penjemuran sebaikknya dilakukan saat pagi hari sekitar jam 07.00 sampai jam 10.00 dan sore hari sekitar jam 14.30 sampai jam 17.00. Keringkan sampai kadar air sekitar 14-12 %. Sebelum digunakan untuk benih sebaiknya benih padi unggul dilakukan stagnasi dulu (disimpan dalam karung) sekitar  1-2 minggu. 
Setelah proses stagnasi bibit padi unggul siap digunakan. Penulis: TS Pertanian & HPT NASA

Minggu, 02 Februari 2014

BUDIDAYA PADI ORGANIK NASA

BUDIDAYA PADI ORGANIK NASA


budidaya padi organik nasa panen
Produksi gabah padi di Indonesia rata-rata 4 - 5 ton/ha. PT. NATURAL NUSANTARA berupaya membantu tercapainya ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi padi berdasarkan asas kuantitas, kualitas dan kelestarian ( K-3 ).

SYARAT TUMBUH

  • Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 mdpl dengan temperatur 19 - 270 C,
  • Memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan.
  • Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan.
  • Padi menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm dan pH tanah 4 - 7.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

A. BENIH

  • Dengan jarak tanam 25 x 25 cm per 1000 m2 sawah membutuhkan 1,5-3 kg.
  • Jumlah ideal benih yang disebarkan sekitar 50-60 gr/m2.
  • Perbandingan luas tanah untuk pembenihan dengan lahan tanam adalah 3 : 100, atau 1000 m2 sawah : 3,5 m2 pembibitan.

poc nasa pada budidaya padi organikB. PERENDAMAN BENIH

Benih direndam POC NASA dan air, dosis 2 cc/lt air selama 6-12 jam. tiriskan dan masukkan karung goni, benih padi yang mengambang dibuang. Selanjutnya diperam menggunakan daun pisang atau dipendam di dalam tanah selama 1 - 2 malam hingga benih berkecambah serentak.

C. PEMELIHARAAN PEMBIBITAN / PENYEMAIAN

Persemaian diairi dengan berangsur sampai setinggi 3 - 5 cm. Setelah bibit berumur 7-10 hari dan 14-18 hari, dilakukan penyemprotan POC NASA dengan dosis 2 tutup/tangki.


D. PEMINDAHAN BENIH

Bibit yang siap dipindahtanamkan ke sawah berumur 21-40 hari, berdaun 5-7 helai, batang bawah besar dan kuat, pertumbuhan seragam, tidak terserang hama dan penyakit.


F. PEMUPUKAN

Pemupukan seperti pada tabel berikut, dosis pupuk sesuai dengan hasil panen yang diinginkan. Semua pupuk makro dicampur dan disebarkan merata ke lahan sesuai dosis.
Khusus penggunaan Hormonik bisa dicampurkan dengan POC NASA kemudian disemprotkan ( 3-4 tutup POC NASA + 1 tutup HORMONIK /tangki ). Hasil akan bervariasi tergantung jenis varietas, kondisi dan jenis tanah, serangan hama dan penyakit.

TABEL PENGGUNAAN POC NASA DAN SUPERNASA

tabel penggunaan POC NASA dan SUPERNASA

tabel penggunaan POC NASA dan SUPERNASA

tabel penggunaan POC NASA dan SUPERNASA

CARA PENGGUNAAN SUPERNASA & POC NASA
  • Pemberian SUPERNASA dengan cara dilarutkan dalam air secukupnya kemudian disiramkan ( hanya disiramkan)
  • Jika dengan POC NASA dicampur air secukupnya bisa disiramkan atau disemprotkan.
  • Khusus SP-36 bisa dilarutkan SUPERNASA atau POC NASA, sedang pupuk makro lainnya disebar secara merata.

G. PENGOLAHAN LAHAN RINGAN

Dilakukan pada umur 20 HST, bertujuan untuk sirkulasi udara dalam tanah, yaitu membuang gas beracun dan menyerap oksigen.


H. PENYIANGAN

Penyiangan rumput-rumput liar seperti jajagoan, sunduk gangsir, teki dan eceng gondok dilakukan 3 kali umur 4 minggu, 35 dan 55.


I. PENGAIRAN

Penggenangan air dilakukan pada fase awal pertumbuhan, pembentukan anakan, pembungaan dan masa bunting. Sedangkan pengeringan hanya dilakukan pada fase sebelum bunting bertujuan menghentikan pembentukan anakan dan fase pemasakan biji untuk menyeragamkan dan mempercepat pemasakan biji.


J. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

  • Hama putih (Nymphula depunctalis).

    • Gejala : menyerang daun bibit, kerusakan berupa titik-titik yang memanjang sejajar tulang daun, ulat menggulung daun padi.
    • Pengendalian:
      • pengaturan air yang baik, penggunaan bibit sehat, melepaskan musuh alami, menggugurkan tabung daun;
      • menggunakan BVR atau Pestona.

  • Padi Thrips (Thrips oryzae). 
    • Gejala: daun menggulung dan berwarna kuning sampai kemerahan, pertumbuhan bibit terhambat, pada tanaman dewasa gabah tidak berisi.
    • Pengendalian: BVR atau Pestona.

  • Wereng. 
    • Wereng penyerang batang padi:
      • wereng padi coklat (Nilaparvata lugens),
      • wereng padi berpunggung putih (Sogatella furcifera)
    • Wereng penyerang daun padi: 
      • wereng padi hijau (Nephotettix apicalis dan N. impicticep).
    • Cara merusak dengan menghisap cairan batang padi dan dapat menularkan virus.
    • Gejala:
      • tanaman padi menjadi kuning dan mengering,
      • sekelompok tanaman seperti terbakar,
      • tanaman yang tidak mengering menjadi kerdil.
    • Pengendalian:
      • bertanam padi serempak,
      • menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, IR 48, IR- 64, Cimanuk, Progo dsb,
      • membersihkan lingkungan,
      • melepas musuh alami seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah;
      • penyemprotan BVR.

  • Walang sangit (Leptocoriza acuta). 
    • Menyerang buah padi yang masak susu.
    • Gejala :
      • buah hampa atau berkualitas rendah seperti berkerut,
      • berwarna coklat dan tidak enak;
      • pada daun terdapat bercak bekas isapan dan bulir padi berbintik-bintik hitam.
    • Pengendalian:
      • bertanam serempak,
      • peningkatan kebersihan,
      • mengumpulkan dan memusnahkan telur,
      • melepas musuh alami seperti jangkrik, laba-laba;
      • penyemprotan BVR atau PESTONA.

  • Kepik hijau (Nezara viridula).
    • Menyerang batang dan buah padi.
    • Gejala:
      • pada batang tanaman terdapat bekas tusukan,
      • buah padi yang diserang memiliki noda bekas isapan dan
      • pertumbuhan tanaman terganggu.
    • Pengendalian:
      • mengumpulkan dan memusnahkan telur-telurnya,
      • penyemprotan BVR atau PESTONA.

  • Penggerek batang padi 
    • Terdiri atas :
      • penggerek batang padi putih (Tryporhyza innotata),
      • kuning (T. incertulas),
      • bergaris (Chilo supressalis) dan
      • merah jambu (Sesamia inferens).
    • Menyerang batang dan pelepah daun.
    • Gejala:
      • pucuk tanaman layu, kering berwarna kemerahan dan mudah dicabut,
      • daun mengering dan seluruh batang kering.
      • Kerusakan pada tanaman muda disebut hama "sundep" dan pada tanaman bunting (pengisian biji) disebut "beluk".
    • Pengendalian: 
      • menggunakan varitas tahan,
      • meningkatkan kebersihan lingkungan,
      • menggenangi sawah selama 15 hari setelah panen agar kepompong mati,
      • membakar jerami;
      • menggunakan BVR atau PESTONA.

  • Hama tikus (Rattus argentiventer).

    • hama tikus


    • Menyerang batang muda (1-2 bulan) dan buah.
    • Gejala: adanya tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman.
    • Pengendalian:
      • pergiliran tanaman,
      • tanam serempak,
      • sanitasi,
      • gropyokan,
      • melepas musuh alami seperti ular dan burung hantu,
      • penggunaan NAT (Natural Aromatic).

  • Burung.

    • hama padi burung

    • Menyerang menjelang panen,
    • Gejala : tangkai buah patah, biji berserakan.
    • Pengendalian: mengusir dengan bunyi-bunyian atau orang-orangan.

  • Penyakit Bercak daun coklat.

    • Penyebab: jamur Helmintosporium oryzae.
    • Gejala:
      • Menyerang pelepah, malai, buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah.
      • Biji berbercak-bercak coklat tetapi tetap berisi,
      • Padi dewasa busuk kering,
      • Biji kecambah busuk dan kecambah mati.
    • Pengendalian:
      • merendam benih di air hangat + POC NASA,
      • pemupukan berimbang, tanam padi tahan penyakit ini.

  • Penyakit Blast. 
    • Penyebab: jamur Pyricularia oryzae.
    • Gejala: menyerang daun, buku pada malai dan ujung tangkai malai. Daun, gelang buku, tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk. Pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa.
    • Pengendalian:
      • membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varitas unggul Sentani, Cimandiri IR-48, IR-36, pemberian pupuk N di saat pertengahan fase vegetatif dan fase pembentukan bulir;
      • pemberian GLIO di awal tanam.

  • Busuk pelepah daun. 
    • Penyebab: jamur Rhizoctonia sp.
    • Gejala: menyerang daun dan pelepah daun pada tanaman yang telah membentuk anakan. Menyebabkan jumlah dan mutu gabah menurun.
    • Pengendalian:
      • menanam padi tahan penyakit
      • pemberian GLIO pada saat pembentukan anakan.

  • Penyakit Fusarium. 
    • Penyebab: jamur Fusarium moniliforme.
    • Gejala: menyerang malai dan biji muda menjadi kecoklatan, daun terkulai, akar membusuk.
    • Pengendalian: merenggangkan jarak tanam, mencelupkan benih + POC NASA dan disebari GLIO di lahan

  • Penyakit kresek/hawar daun. 
    • Penyebab: bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae) Gejala: menyerang daun dan titik tumbuh. Terdapat garis-garis di antara tulang daun, garis melepuh dan berisi cairan kehitam-hitaman, daun mengering dan mati.
    • Pengendalian:
      • menanam varitas tahan penyakit seperti IR 36, IR 46, Cisadane, Cipunegara, menghindari luka mekanis, sanitasi lingkungan;
      • pengendalian diawal dengan GLIO.

  • Penyakit kerdil. 
    • Penyebab: virus ditularkan oleh wereng coklat Nilaparvata lugens.
    • Gejala: menyerang semua bagian tanaman, daun menjadi pendek, sempit, berwarna hijau kekuning-kuningan, batang pendek, buku-buku pendek, anakan banyak tetapi kecil.
    • Pengendalian: sulit dilakukan, usaha pencegahan dengan memusnahkan tanaman yang terserang ada mengendalikan vector dengan BVR atau PESTONA.

  • Penyakit tungro. 
    • Penyebab: virus yang ditularkan oleh wereng hijau Nephotettix impicticeps.
    • Gejala:
      • menyerang semua bagian tanaman,
      • pertumbuhan tanaman kurang sempurna,
      • daun kuning hingga kecoklatan,
      • jumlah tunas berkurang,
      • pembungaan tertunda,
      • malai kecil dan tidak berisi.
    • Pengendalian:
      • menanam padi tahan wereng seperti Kelara, IR 52, IR 36, IR 48, IR 54, IR 46, IR 42 dan
      • mengendalikan vektor virus dengan BVR.


K. PANEN DAN PASCA PANEN

  • Panen dilakukan jika butir gabah 80 % menguning dan tangkainya menunduk
  • Alat yang digunakan ketam atau sabit
  • Setelah panen segera dirontokkan malainya dengan perontok mesin atau tenaga manusia
  • Usahakan kehilangan hasil panen seminimal mungkin.
  • Setelah dirontokkan diayaki (Jawa : ditapeni) dilakukan pengeringan dengan sinar matahari 2-3 hari.
  • Setelah kering lalu digiling yaitu pemisahan gabah dari kulit bijinya.
  • Beras siap dikonsumsi.

PRODUK NASA YANG DIGUNAKAN
  • POC NASA
  • SUPERNASA
  • BVR
  • PESTONA
  • GLIO