Tampilkan postingan dengan label Ayam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ayam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Maret 2014

PERAN VITERNA MENCEGAH GANGGUAN PERNAFASAN PADA AYAM

PERAN VITERNA MENCEGAH GANGGUAN PERNAFASAN PADA AYAM


Artikel ini dapat juga di baca di NaturalNusantara.org


mencegah gangguan pernafasan pada ayam
Pendahuluan

Perkembangan peternakan ayam broiler di Indonesia sangat luar biasa, hal ini terkait dengan semakin tingginya permintaan daging ayam untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Kebutuhan daging ayam ras broiler (ayam pedaging) cenderung meningkat setiap tahun.

Peningkatan kebutuhan ini sejalan dengan situasi perekonomian Indonesia yang terus bertumbuh. Konsumsi ayam ras pada tahun 2013 ini mencapai 2,2 miliar ekor. Jumlah tersebut naik 15,79% dibandingkan konsumsi ayam ras sepanjang 2012 sebanyak 1,9 juta miliar ekor (Kontan, 2013).

Inilah potensi besar peternakan ayam broiler di Indonesia yang sangat diminati oleh masyarakat hingga saat ini.

Dari potensi yang luar biasa tersebut, hal yang masih menjadi kendala atau tantangan bagi peternak ayam broiler adalah serangan penyakit yang cukup sering pada ayam yang dianggap paling baik produktivitas sebagai ternak penghasil daging. Salah satu yang sering menyerang ayam broiler adalah penyakit pernafasan. Beberapa penyakit yang muncul dari gangguan pernafasan seperti CRD, Korisa, ND, AI dan IB.

Tetapi penyebab gangguan pernafasan pada ayam bisa disebabkan 2 hal yaitu faktor non infeksius dan faktor infeksius (Medion, 2013). Faktor non infeksius seperti sirkulasi udara dalam kandang yang tidak lancar, kepadatan ayam yang terlalu tinggi, jarak antar kandang terlalu dekat, kandang terlalu dekat dengan tebing atau telalu banyak pepohonan sehingga mengakibatkan pembuangan udara kotor dan gas-gas beracun seperti amonia menjadi terhambat.

Selain itu faktor non infeksius pada gangguan pernafasan bisa disebabkan karena pakan yang diberikan ke ayam tidak seimbang, terutama kadar protein dan garam.  Kadar protein dan garam yang tinggi pada pakan serta litter atau alas kandang yang terlalu basah memacu munculnya gas amonia yang akan mengganggu pernafasan ayam. Sedangkan gangguan pernafasan yang disebabkan oleh faktor infeksius terdiri dari serangan virus (ND, AI, IB dan ILT), bakteri (CRD, Korisa) maupun jamur Aspergillosis sp. (Medion, 2013).

stop nd pada ayam

Untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit-penyakit pernafasan tersebut, maka perlu dilakukan beberapa hal yaitu :











1) Menciptakan kondisi kandang dan sekitarnya yang nyaman, seperti mengatur kelancaran sirkulasi udara sehingga gas amonia dalam kandang dapat dikurangi, menambahkan kipas angin atau blower untuk membantu sirkulasi udara.
2) Melaksanakan program vaksinasi secara teratur sesuai jadwal.
3) Memberikan multivitamin dari NASA yaitu VITERNA setiap harinya pada air minum, VITERNA mengandung vitamin dan mineral lengkap untuk meningkatkan daya tahan tubuh ayam sehingga tidak mudah terserang oleh penyakit.
4) Upayakan kandang penyimpan pakan tidak terlalu lembab.
5) Menerapakan program biosecurity yaitu pelaksanaan sanitasi dan desinfeksi secara rutin.
6) bila ada ayam yang sudah terindikasi terkena penyakit pernafasan segera dipisahkan dari ayam yang lain dan dimasukkan ke dalam kandang isolasi (Medion, 2013)

Penulis: TS Peternakan NASA

BAGAIMANA AYAM TUMBUH CEPAT

Bagaimana Cara Agar Ayam Cepat Besar & Sehat

Artikel ini dapat di baca juga di NaturalNusantara.org

agar ayam cepat tumbuh sehat

Pada masa kini, ayam khususnya ayam negeri atau biasa disebut ayam ras seperti ayam broiler dapat tumbuh dengan cepat, sehingga dapat dipanen hanya dalam waktu 30 hari. Wajar bila timbul pertanyaan, bagaimana caranya ayam dapat tumbuh secepat itu sehingga beredarlah rumor seperti : Ayam cepat besar karena disuntik zat kimia hormon. Kenyataan sebenarnya, ayam dapat tumbuh secepat itu karena 3 faktor, yaitu :

1. Bibit Unggul

Ayam dapat tumbuh cepat karena secara genetis memang ayam jenis ini cepat besar. Ayam ini dari safat keturunannya memang dipelihara sebagai ayam pedaging, atau ayam broiler. Ditambah lagi dengan seleksi ketat guna memperoleh bibit unggul, dimulai dari seleksi ayam nenek, ayam induk dan ayam umur sehari.

2. Lingkungan

Ayam dipelihara pada lingkungan yang baik dan sehat, dalam kandang yang diatur sirkulasi udara serta dijaga kebersihannya. Lingkungan ini memberikan suasana nyaman sehingga ayam tidak mudah stres dan terserang penyakit.

3. Pakan Ayam

Diberi pakan yang diatur gizinya dan disesuaikan dengan umurnya. Kebutuhan zat makanan seperti protein, kalsium, karbohidrat dan sebagainya diperhitungkan secara cermat dan dilakukan tes kandungan gizi pakan ternak di laboratorium.

PT. Natural Nusantara yang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang agrokompleks telah memiliki produk pemacu pertumbuhan ayam yang bersifat organik yang bernama Viterna, POC Nasa dan Hormonik. Ketiga produk tersebut berasal dari bahan-bahan alami sehingga tidak menimbulkan efek samping atau gangguan kesehatan bagi manusia yang mengkonsumsi daging ayam tersebut. Selain memacu pertumbuhan ayam sehingga ayam dapat cepat dipanen dengan berat yang signifikan, seperti umur 38 hari sudah dapat mencapai berat hidup rata-rata sebesar 2 kg per ekor, Viterna, POC Nasa dan hormonik berperan dalam mengurangi angka kematian rata-rata dibawah 2%, menghemat pakan secara total rata-rata FCR yang dihasilkan sebesar 1,3 - 1,5.

vitamin-ternak-natural-nusantarapupuk organik cair nasahormon organik natural nusantara NASA

Demikian pula, kualitas daging yang dihasilkan sangat mendukung program Departemen kesehatan, yaitu hasil uji kandungan daging di Laboratorium Fakultas Teknologi Pertanian UGM Yogyakarta, diperoleh hasil bahwa daging ayam yang menggunakan produk Nasa memiliki kandungan protein yang tinggi dan rendah kandungan kolesterolnya .Ditambah lagi dengan kemanfaatan dapat mengurangi bau kotoran ayam sehingga tidak menimbulkan masalah sosial pada lokasi kandang yang berjarak tidak jauh dari wilayah pemukiman penduduk.

Cara pemberiannya adalah ketiga produk nasa tersebut, yaitu : 1 botol Viterna, 1 botol POC Nasa dan 1 botol Hormonik dicampur terlebih dahulu menjadi satu, kemudian ambillah 1 tutup botol campuran ketiga produk Nasa tadi, dimasukkan ke dalam 10 liter air minum diberikan 1 kali setiap hari.

Ibarat hendak 'mencetak' olahragawan tangguh, proses harus dimulai dari pemilihan bibit, pemberian pakan, dan memberikan lingkungan terbaik agar ayam tumbuh dengan cepat dan sehat. Tidaklah seperti anggapan selama ini, begitu disuntik zat kimia hormon, ayam akan segera tumbuh. Ayam bukanlah balon yang begitu dipompa segera menjadi besar.

Jumat, 14 Februari 2014

BUDIDAYA AYAM PEDAGING ( BROILER )

BUDIDAYA AYAM PEDAGING
MENERAPKAN TEKNOLOGI ORGANIK NASA



budidaya ayam pedanging nasa
Budidaya Ayam Pedaging dengan menerapkan teknologi organik PT. Natural Nusantara ( NASA ) ini dapat Anda baca juga melalui NaturalNusantara.org.

I. PENDAHULUAN

Ayam Pedaging (Broiler) adalah ayam ras yang mampu tumbuh cepat sehingga dapat menghasilkan daging dalam waktu relatif singkat (5-7 minggu). Broiler mempunyai peranan yang penting sebagai sumber protein hewani asal ternak.

PT. NATURAL NUSANTARA berupaya membantu peningkatan produktivitas, kuantitas, kualitas dan efisiensi usaha peternakan ayam broiler secara alami (non-Kimia).

II. PEMILIHAN BIBIT

Bibit yang baik mempunyai ciri : sehat dan aktif bergerak, tubuh gemuk (bentuk tubuh bulat), bulu bersih dan kelihatan mengkilat, hidung bersih, mata tajam dan bersih serta lubang kotoran (anus) bersih.

III. KONDISI TEKNIS YANG IDEAL

  • Lokasi kandang. Kandang ideal terletak di daerah yang jauh dari pemukiman penduduk, mudah dicapai sarana transportasi, terdapat sumber air, arahnya membujur dari timur ke barat.
  • Pergantian udara dalam kandang. Ayam bernapas membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Supaya kebutuhan oksigen selalu terpenuhi, ventilasi kandang harus baik.
  • Kemudahan mendapatkan sarana produksi. Lokasi kandang sebaiknya dekat dengan poultry shop atau toko sarana peternakan.
  • Suhu udara dalam kandang. Suhu ideal kandang sesuai umur adalah :

Umur (hari)Suhu ( 0C )
01 - 0734 - 32
08 - 1429 - 27
15 - 2126 - 25
21 - 2824 - 23
29 - 3523 - 21

IV. TATA LAKSANA PEMELIHARAAN

4.1 Perkembangan

Tipe kandang ayam Broiler ada dua, yaitu bentuk panggung dan tanpa panggung (litter).
  • Tipe panggung lantai kandang lebih bersih karena kotoran langsung jatuh ke tanah, tidak memerlukan alas kandang sehingga pengelolaan lebih efisien, tetapi biaya pembuatan kandang lebih besar.
  • Tipe litter lebih banyak dipakai peternak, karena lebih mudah dibuat dan lebih murah.
Pada awal pemeliharaan, kandang ditutupi plastik untuk menjaga kehangatan, sehingga energi yang diperoleh dari pakan seluruhnya untuk pertumbuhan, bukan untuk produksi panas tubuh. Kepadatan kandang yang ideal untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah 8-10 ekor/m2, lebih dari angka tersebut, suhu kandang cepat meningkat terutama siang hari pada umur dewasa yang menyebabkan konsumsi pakan menurun, ayam cenderung banyak minum, stress, pertumbuhan terhambat dan mudah terserang penyakit.

 4.2. Pakan

  • Pakan merupakan 70% biaya pemeliharaan.
  • Pakan yang diberikan harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang dibutuhkan ayam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, sehingga pertambahan berat badan perhari (Average Daily Gain/ADG) tinggi.
  • Pemberian pakan dengan sistem ad libitum (selalu tersedia/tidak dibatasi).
Apabila menggunakan pakan dari pabrik, maka jenis pakan disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua) tahap.

budidaya ayam pedaging broiler nasa viterna
budidaya ayam pedaging broiler nasa poc nasa
  • Tahap pertama disebut tahap pembesaran (umur 1 sampai 20 hari), yang harus mengandung kadar protein minimal 23%.
  • Tahap kedua disebut penggemukan (umur diatas 20 hari), yang memakai pakan berkadar protein 20 %. Jenis pakan biasanya tertulis pada kemasannya.
  • Penambahan POC NASA lewat air minum dengan dosis 1 - 2 cc/liter air minum memberikan berbagai nutrisi pakan dalam jumlah cukup untuk membantu pertumbuhan dan penggemukan ayam broiler.
  • Dapat juga digunakan VITERNA Plus sebagai suplemen khusus ternak dengan dosis 1 cc/liter air minum/hari, yang mempunyai kandungan nutrisi lebih banyak dan lengkap.
Efisiensi pakan dinyatakan dalam perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio).

Cara menghitungnya adalah, jumlah pakan selama pemeliharaan dibagi total bobot ayam yang dipanen.
Contoh perhitungan :
Diketahui ayam yang dipanen 1000 ekor, berat rata-rata 2 kg, berat pakan selama pemeliharaan 3125 kg, maka :

FCR-nya adalah = Berat total ayam hasil panen = 1000 x 2 = 2000 kg
FCR = 3125 : 2000 = 1,6

Semakin rendah angka FCR, semakin baik kualitas pakan, karena lebih efisien (dengan pakan sedikit menghasilkan bobot badan yang tinggi).
Penggunaan POC NASA atau VITERNA Plus dapat menurunkan angka FCR tersebut.

4.3. Vaksinasi

  • Vaksinasi adalah pemasukan bibit penyakit yang dilemahkan ke tubuh ayam untuk menimbulkan kekebalan alami.
  • Vaksinasi penting yaitu vaksinasi ND/tetelo.
  • Dilaksanakan pada umur 4 hari dengan metode tetes mata, dengan vaksin ND strain B1 dan pada umur 21 hari dengan vaksin ND Lasotta melalui suntikan atau air minum.

4.4. Teknis Pemeliharaan

Minggu Pertama (hari ke-1-7). Kutuk/DOC dipindahkan ke indukan atau pemanas, segera diberi air minum hangat yang ditambah POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari dan gula untuk mengganti energi yang hilang selama transportasi.

Pakan dapat diberikan dengan kebutuhan per ekor 13 gr atau 1,3 kg untuk 100 ekor ayam. Jumlah tersebut adalah kebutuhan minimal, pada prakteknya pemberian tidak dibatasi. Pakan yang diberikan pada awal pemeliharaan berbentuk butiran-butiran kecil (crumbles).
  • Mulai hari ke-2 hingga ayam dipanen air minum sudah berupa air dingin dengan penambahan POC NASA dengan dosis 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis 1 cc/liter air minum/hari (diberikan saat pemberian air minum yang pertama). Vaksinasi yang pertama dilaksanakan pada hari ke-4.

  • Minggu Kedua (hari ke 8 -14). Pemeliharaan minggu kedua masih memerlukan pengawasan seperti minggu pertama, meskipun lebih ringan. Pemanas sudah bisa dikurangi suhunya. Kebutuhan pakan untuk minggu kedua adalah 33 gr per ekor atau 3,3 kg untuk 100 ekor ayam.

  • Minggu Ketiga (hari ke 15-21). Pemanas sudah dapat dimatikan terutama pada siang hari yang terik. Kebutuhan pakan adalah 48 gr per ekor atau 4,8 kg untuk 100 ekor. Pada akhir minggu (umur 21 hari) dilakukan vaksinasi yang kedua menggunakan vaksin ND strain Lasotta melalui suntikan atau air minum. Jika menggunakan air minum, sebaiknya ayam tidak diberi air minum untuk beberapa saat lebih dahulu, agar ayam benar-benar merasa haus sehingga akan meminum air mengandung vaksin sebanyak-banyaknya. Perlakuan vaksin tersebut juga tetap ditambah POC NASA atau VITERNA Plus dengan dosis tetap.

  • Minggu Keempat (hari ke 22-28). Pemanas sudah tidak diperlukan lagi pada siang hari karena bulu ayam sudah lebat. Pada umur 28 hari, dilakukan sampling berat badan untuk mengontrol tingkat pertumbuhan ayam. Pertumbuhan yang normal mempunyai berat badan minimal 1,25 kg. Kebutuhan pakan adalah 65 gr per ekor atau 6,5 kg untuk 100 ekor ayam. Kontrol terhadap ayam juga harus ditingkatkan karena pada umur ini ayam mulai rentan terhadap penyakit.

  • Minggu Kelima (hari ke 29-35). Pada minggu ini, yang perlu diperhatikan adalah tatalaksana lantai kandang. Karena jumlah kotoran yang dikeluarkan sudah tinggi, perlu dilakukan pengadukan dan penambahan alas lantai untuk menjaga lantai tetap kering. Kebutuhan pakan adalah 88 gr per ekor atau 8,8 kg untuk 100 ekor ayam. Pada umur 35 hari juga dilakukan sampling penimbangan ayam. Bobot badan dengan pertumbuhan baik mencapai 1,8 - 2 kg. Dengan bobot tersebut, ayam sudah dapat dipanen.

  • Minggu Keenam (hari ke-36-42). Jika ingin diperpanjang untuk mendapatkan bobot yang lebih tinggi, maka kontrol terhadap ayam dan lantai kandang tetap harus dilakukan. Pada umur ini dengan pertumbuhan yang baik, ayam sudah mencapai bobot 2,25 kg.

4.5. Penyakit Pada Ayam

Penyakit yang sering menyerang ayam broiler yaitu :
  • Tetelo (Newcastle Disease/ND).
    • Disebabkan virus Paramyxo yang bersifat menggumpalkan sel darah.
    • Gejalanya ayam sering megap-megap, nafsu makan turun, diare dan senang berkumpul pada tempat yang hangat. Setelah 1 - 2 hari muncul gejala syaraf, yaitu kaki lumpuh, leher berpuntir dan ayam berputar-putar yang akhirnya mati. Ayam yang terserang secepatnya dipisah, karena mudah menularkan kepada ayam lain melalui kotoran dan pernafasan.
    • Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, maka untuk mengurangi kematian, ayam yang masih sehat divaksin ulang dan dijaga agar lantai kandang tetap kering.

  • Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD).
    • Merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus golongan Reovirus.
    • Gejala diawali dengan hilangnya nafsu makan, ayam suka bergerak tidak teratur, peradangan disekitar dubur, diare dan tubuh bergetar-getar. Sering menyerang pada umur 36 minggu. Penularan secara langsung melalui kotoran dan tidak langsung melalui pakan, air minum dan peralatan yang tercemar.
    • Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, yang dapat dilakukan adalah pencegahan dengan vaksin Gumboro.

  • Penyakit Ngorok (Chronic Respiratory Disease).
    • Merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum
    • Gejala yang nampak adalah ayam sering bersin dan ingus keluar lewat hidung dan ngorok saat bernapas. Pada ayam muda menyebabkan tubuh lemah, sayap terkulai, mengantuk dan diare dengan kotoran berwarna hijau, kuning keputih-keputihan. Penularan melalui pernapasan dan lendir atau melalui perantara seperti alat-alat.
    • Pengobatan dapat dilakukan dengan obat-obatan yang sesuai.

  • Berak Kapur (Pullorum).
    • Disebut penyakit berak kapur karena gejala yang mudah terlihat adalah ayam diare mengeluarkan kotoran berwarna putih dan setelah kering menjadi seperti serbuk kapur.
    • Disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum. Kematian dapat terjadi pada hari ke-4 setelah infeksi. Penularan melalui kotoran.
    • Pengobatan belum dapat memberikan hasil yang memuaskan, yang sebaiknya dilakukan adalah pencegahan dengan perbaikan sanitasi kandang.
Infeksi bibit penyakit mudah menimbulkan penyakit, jika ayam dalam keadaan lemah atau stres. Kedua hal tersebut banyak disebabkan oleh kondisi lantai kandang yang kotor, serta cuaca yang jelek. Cuaca yang mudah menyebabkan ayam lemah dan stres adalah suhu yang terlalu panas, terlalu dingin atau berubah-ubah secara drastis. Penyakit, terutama yang disebabkan oleh virus sukar untuk disembuhkan.

Untuk itu harus dilakukan sanitasi secara rutin dan ventilasi kandang yang baik. Pemberian POC NASA yang mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan ternak, seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe dan lain-lain serta dilengkapi protein dan lemak nabati, mampu meningkatkan pertumbuhan ayam, ketahanan tubuh ayam, mengurangi kadar kolesterol daging dan mengurangi bau kotoran.

cara budidaya ayam pedaging broiler nasa hormonik
Untuk hasil lebih optimal, pemberian POC NASA dapat dicampur dengan Hormonik dosis 1 botol POC NASA dicampur dengan 1-2 tutup botol Hormonik, atau 1 botol POC NASA dicampur dengan 2-4 kapsul Asam Amino.

Dapat juga menggunakan VITERNA Plus yang merupakan suplemen khusus ternak dengan kandungan :
Mineral-mineral yang penting untuk pertumbuhan tulang, organ luar dan dalam, pembentukan darah dan lain-lain.
Asam-asam amino utama seperti Arginin, Histidin, Isoleucine, Lycine, Methionine , Phenylalanine, Threonine, Thryptophan, dan Valine sebagai penyusun protein untuk pembentukan sel, jaringan, dan organ tubuh
Vitamin-vitamin lengkap, yaitu A, D, E, K, C dan B Komplek untuk kesehatan dan ketahanan tubuh.

4.6. Sanitasi/Cuci Hama Kandang Ayam

Sanitasi kandang harus dilakukan setelah panen.
Dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu :
  • Tahap pencucian kandang dengan air hingga bersih dari kotoran limbah budidaya sebelumnya.
  • Tahap pengapuran di dinding dan lantai kandang. Untuk sanitasi yang sempurna selanjutnya dilakukan penyemprotan dengan formalin, untuk membunuh bibit penyakit.
  • Setelah itu dibiarkan minimal selama 10 hari sebelum budidaya lagi untuk memutus siklus hidup virus dan bakteri, yang tidak mati oleh perlakuan sebelumnya.